Ars Electronica Festival 2020 Mengundang Connected Art Platform Menjadi Host

- 7 September 2020, 10:07 WIB
ist /

GALAMEDIA - Festival seni dan teknologi international Ars Electronica Festival (AEF) kembali digelar di tahun 2020 pada tanggal 9 - 13 September mendatang dengan
mengangkat tema “Kepler’s Garden” dengan pusat pameran di Kepler Garden, JKU University Linz, Austria.

“Kepler`s Garden” merupakan metafora prinsip dari AEF dalam situasi global lockdown sekarang, yaitu: sebuah festival yang mewujudkan serta menghadirkan jaringan baru di 120 lokasi di seluruh dunia yang dilakukan secara virtual.

Di edisi ke-41 AEF ini, untuk kedua kalinya, Connected Art Platform (CAP) mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi di salah satu festival seni-teknologi terbesar di dunia. Kali ini, CAP diundang untuk menjadi penyelenggara Ars Electronica Garden Jakarta, melengkapi 120 lokasi yang tersebar di berbagai negara di seluruh dunia, untuk bersama-sama membangun jaringan biotopes dan ecosystem sebagai langkah kerjasama membangun masa depan.

Baca Juga: Raja Salman Kepada Donald Trump: Tidak Ada Normalisasi Israel Tanpa Status Palestina

Mona Liem selaku kurator CAP, telah memilih lima seniman Indonesia dengan latar belakang beragam mulai dari arsitek, scanographer, painter, studio motion, creative lab dan aktivis kemanusiaan. Kesamaan mereka adalah memadukan seni dengan science atau technology untuk menyampaikan keresahan serta perhatian mereka terhadap tantangan dan keadaan yang ada disekitar mereka sekaligus mendorong tumbuhnya gagasan-gagasan baru sebagai bagian dari solusi.

Para seniman mengangkat tema besar “Prisma Garden” yang mengambil inspirasi dari keberagaman alam dan manusia di Indonesia. “Prisma Garden” menunjukkan bahwa dengan adanya keanekaragaman yang ada di Indonesia, seni memiliki fungsi tersendiri sebagai jembatan berbagai elemen kehidupan yang ada di masyarakat.

Prison Art Programs (PAPs) yang dimotori oleh Angki Purbandono, mengingatkan kita untuk menghormati keberagaman manusia yang direfleksikan melalui rangkaian berbagai daun dalam karya bertajuk “Atas Nama Daun”.

Baca Juga: Husein Sastranegara Bandung Dinilai Masih Layak jadi Bandara Internasional

Ide ini ditemukan saat dia berada di penjara dikarenakan daun ganja. Seni-lah yang menyelamatkan hari-hari seorang Angki dan dia menularkannya kepada teman-temannya sehingga terbentuklah pergerakan seni karya kolaboratif yang menggunakan basis artistik “kenangan penjara”.

Halaman:

Editor: Dadang Setiawan


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X