Dampak Pandemi Covid-19, Pengusaha Pabrik Tekstil  di Kabupaten Bandung Humarurung

- 16 September 2020, 13:29 WIB
/Engkos Kosasih/

GALAMEDIA - Para pelaku usaha pabrik tekstil di Kabupaten Bandung, khususnya di kawasan Kecamatan Paseh dan Majalaya saat ini sedang "humarurung". Pasalnya, dihadapkan pada kondisi ekonomi yang belum pasti akibat pandemi Covid-19 yang melanda sebagian besar kawasan Indonesia. 

"Saat ini, perusahaan masih bisa terus produksi. Tapi setelah jadi barang, hasil produksinya tidak bisa keluar atau dipasarkan. Ini sebagai dampak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Kita sebagai perusahaan industri tidak bisa berbuat banyak," keluh pengelola pabrik tekstil CV. Sandang Indah Lestari H. Asep Gunawan pada Galamedia di Kampung Nanggela Desa Cipaku Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung, Rabu 16 September 2020.

Asep mengatakan, karena barang tak bisa keluar dan dipasarkan, produksi pun terus menumpuk di gudang. Lebih dari 1,5 juta yard, produksi kain dibiarkan menumpuk karena pemesan barang dari luar kota atau daerah terkendala pandemi Covid-19.

Baca Juga: Cek Fakta: Ini Beberapa Risiko Penyakit Orang dengan Golongan Darah A dan Cara Mengatasinya

"Salah satu contoh saja, dengan diberlakukannya kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, berdampak pada pemasaran barang," katanya. 

Dengan adanya penetapan PSBB itu, ia mengatakan, barang yang sudah jadi dipesan oleh pemesan, ketika akan dikirim minta ditunda dulu. Begitu juga ketika pesanan barang dari pemesan ketika akan diproduksi, mendadak minta ditunda dan jangan dulu diproduksi.

"Ini dampak dari pandemi Covid-19, yang tidak bisa dihindari. Meski dampak penyebaran virus corona ini sangat terasa sekali dalam pemasaran produk kain," katanya. 

Baca Juga: Prof. Pranoto Kembangkan Manfaat Gerabah Lempung Alofan untuk Pencegah Covid 19 

Asep mengatakan, pemasaran produk tekstil yang dihasilkan pabrik tekstil di Paseh dan Majalaya, khususnya untuk pemasaran dalam negeri, titik pemasarannya terpusat di Pasar Tanah Abang Jakarta. "Pemasaran barang masih terkonsentrasi di dalam negeri. Pemasaran barang pun berdasarkan pesanan dari konsumen. Ketika ada pemesan, kita langsung produksi sesuai dengan pesanan para pemesan tersebut," ujarnya. 

Lebih lanjut Asep menuturkan, pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, bahkan kasus  baru terus meningkat, pemasaran barang pun hanya tersisa 20 persen. Sebagian besar, pemasaran barang sudah turun karena terdampak wabah virus corona. 

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X