Kerap Banjir, Daerah Resapan Air di Garut Selatan Beralih Fungsi

- 19 November 2020, 14:44 WIB
Banjir di wilayah Garut Selatan dkibatkan beralihfungsinya resapan air /Robi Taufik/
 
GALAMEDIA - Akhir-akhir ini daerah Garut Selatan kerap dilanda banjir. Hal itu disinyalir karena daerah resapan air (hutan) banyak beralih fungsi.
 
Daerah yang seharusnya ditanami pohon tegakan justru beralih menjadi daerah pertanian. Kondisi tersebut diduga kuat menjadi faktor penyebab banjir yang kerap terjadi di Garut Selatan.
 
Hal itu ditegaskan langsung oleh Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol CZi Deni usai melakukan peninjauan langsung dengan helikopter bersama BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
 
Deni mengungkapkan, dari peninjauan tersebut, banyak terlihat kawasan pertanian palawija. Padahal seharusnya di sana ditanami tanama keras.
 
 
“Banyak tanaman sayuran, tomat, kentang, kolo, dan lainnya. Jadi ada alih fungsi lahan di sana yang seharusnya menjadi daerah resapan air,” ujarnya, Kamis 19 November 2020.
 
Kendati demikian, pihaknya belum mengetahui secara pasti berapa luas lahan yang rusak akibat alih fungsi itu. Namun diperkirakan terdapat ratusan hektare lahan yang beralih fungsi.
 
“Kita sudah melakukan rapat dengan sejumlah pihak untuk memperbaiki kawasan hulu yang sudah rusak akibat alih fungsi lahan itu,” ungkapnya.
 
“Untuk yang besarnya saat ini kita sedang membangun jembatan menggunakan dana dari yayasan-yayasan kemanusiaan. Jembatan yang kita bangun ini menghubungkan Desa Paas dengan Desa Depok. Ini harus segera karena jembatan itu satu-satunya akses yang bisa digunakan selain menyebrangi sungai,” jelasnya.
 
 
Warga Cisompet, Dindin, membenarkan perihal kabar alih fungsi lahan di Selatan Garut. Terutama yang selama ini menjadi daerah hulu sungai adalah Kecamatan Cikajang dan Cisompet.
 
Di dua kecamatan ini yang menurutnya banyak alih fungsi lahan dari pohon tegakan kepada pertanian musman seperti sayuran. Padahal dua kecamatan ini menjadi hulu sungai yang selama ini mengalir ke Garut selatan.
 
Oleh sebab itu ketika hujan lebat, volume air tidak tertampung di sungai dan meluber ke daratan. 
 
 
Dindin menyarankan agar ada pola pertanian yang dibenahi selama ini. Misalnya adalah dengan menerapkan tumpangsari. Diamana dengan pola tanam seperti ini, masyarakat tetap bisa meanam sayuran tapi tidak merusak pohon tegakan.
 
"Tanaman musiman itu perlu juga untuk mata pencaharian masyarakat tapi tolong di sela-sela tanaman sayuran itu ditanam pohon. Misalnya jarak 10 meter ada satu pohon," ujar Dindin.
 
Dia pun membenarkan selama ini banyak penebangan pohon yang terjadi di sana. Penebangan pohon sendiri menurutnya memang hasil budidaya masyarakat, namun untuk status lahan memang kurang jelas. 
 
 
"Untuk lahannya itu kemungkinan merupakan hak guna pakai saja. Tapi pohonnya memang masyarakat tanam sendiri," ujar Dindin.

Editor: Kiki Kurnia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X