Sinovac Disebut Barang Rongsok, Kepala BPOM Penny Lukito Berikatan Penjelasan

- 18 Januari 2021, 07:53 WIB
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Covid-19 Sinovac saat vaksinasi tahap pertama di Puskesmas Jurang Mangu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat, 15 Januari 2021.
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Covid-19 Sinovac saat vaksinasi tahap pertama di Puskesmas Jurang Mangu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat, 15 Januari 2021. /ANTARA FOTO/Fauzan

GALAMEDIA - Vaksin Sinovac dengan efikasi (tingkat keampuhan) 63,3 persen diyakini masih aman untuk melindungi masyarakat dari serangan virusan corona (Covid-19).

Capaian angka tersebut sudah melebihi standar World Health Organization (WHO) sebesar 50 persen.

Banyak kalangan masyarakat membandingkan jumlah efikasi di Indonesia dan juga Brasil yang dinilai jauh berbeda.

Hal itu berdampak adanya kekhawatiran masyarat untuk mengikuti vaksinasi. Apalagi salah satu anggota DPR RI, Ribka Tjiptaning menyebut sinovac sebagai barang rongsokan.

Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan, efikasi di Brasil berubah-ubah karena efikasi tidak dapat dibandingkan dengan platform yang berbeda.

Baca Juga: Ini Wujud Kelemahlembutan Rasulullah kepada Orang Muslim serta Simpatinya pada Kaum Muslimin

Djelaskan Penny, walaupun platformnya sama dengan uji klinis di lokasi berbeda pun tidak dapat dibandingkan.

Hal tersebut dikarenakan banyaknya parameter yang menentukan.

"Pertama dari relawan sudah berbeda, jumlahnya berbeda, kemudian tingkat risiko dari relawan berbeda di Brasil 100 persen adalah tenaga kesehatan, dan di Turki 20 persen adalah tenaga kesehatan dan 80 persen pekerja berisiko. Di Indonesia umum, dan ini justru lebih merepresentasikan masyarakat secara umum," ujar Penny, Minggu 17 Januari 2021.

Baca Juga: Gol Sang Mantan, Artueo Vidal Bawa Inter Menangi Derby d'Italia Atas Juventus

Sebelumnya, Jurubicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa vaksin adalah upaya negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman pandemi Covid-19 dan demi tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity.

"Kami telah menerima rekomendasi dari WHO, bahwa nilai efikasi di atas 50 persen dapat diterima," tutup Wiku.***

Editor: Dicky Aditya


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x