Patung Soeharto dan AH Nasution Dibongkar, Putri Ahmad Yani: Upaya Menghilangkan Jejak Sejarah?

- 30 September 2021, 17:41 WIB
Tangkap Layar Patung Jenderal Soeharto, Jenderal AH Nasution, dan Jenderal Sarwo Edhy pada Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad yang dibongkar.
Tangkap Layar Patung Jenderal Soeharto, Jenderal AH Nasution, dan Jenderal Sarwo Edhy pada Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad yang dibongkar. /Miftah's TV,/Miftah's TV

GALAMEDIA - Putri Pahlawan Revolusi Jenderal TNI (Purn.) Achmad Yani, Amelia Yani ikut angkat bicara soal dipindahkannya patung diorama di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad.

Tiga patung tersebut yaitu sosok Jenderal Besar TNI (Purn.) Alm. H.M. Soeharto, Jenderal Besar TNI (Purn.) Alm. Abdul Haris Nasution, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Alm. Sarwo Edhi Wibowo.

Pemindahan ketiga patung perwira tersebut telah diprakarsai oleh mantan Pangkostrad, Letnan Jenderal TNI (Purn.) A.Y. Nasution dan disetujui oleh Pangkostrad Letnan Jenderal TNI Dudung.

Amelia Yani menyampaikan ungkapan rasa keprihatinannya atas berbagai pemberitaan yang beredar seputar upaya pemindahan patung tokoh TNI Angkatan Darat tersebut.

Seperti diketahui, sewaktu meletusnya kejadian G30SPKI, Alm. H.M. Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) TNI AD, Alm. Abdul Haris Nasution sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, dan Alm. Sarwo Edhi Wibowo sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Baca Juga: BPIP: Soekarno adalah Umat Islam Paling Berhasil Meneladani Politik Nabi Muhammad SAW

"Pemindahan patung-patung tersebut telah menimbulkan gonjang ganjing di Tanah Air khususnya di lingkungan Keluarga Besar TNI AD," ujar Amelia Yani dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Kamis, 30 September 2021.

"Pemindahan ketiga patung sangat disayangkan. Walaupun sebuah benda mati, patung tersebut merepresentasikan para tokoh TNI AD, sehingga jangan sampai pemindahannya diartikan sebagai upaya penyimpangan sejarah," kata Amelia.

"Tujuan utama penempatan patung (dalam diorama) agar fakta sejarah dapat ditegakkan dan publik mendapatkan informasi se-akurat mungkin," lanjutnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X