Gara-Gara Alat Kelamin Suami Terlalu Besar atau Kecil, Bolehkah Sang Istri Menggugat Cerai?

- 7 Agustus 2020, 03:20 WIB
Ilustrasi. /

GALAMEDIA - Setiap pasangan suami-istri (pasutri) pada umumnya memiliki harapan agar  pernikahan bisa bertahan langgeng.

Namun realita kehidupan terkadang tidak sesuai dengan harapan hingga pada akhirnya berkonsekuensi putusnya tali pernikahan.

Dalam Islam, pembatalan perceraian tak hanya bisa dilakukan oleh suami, tapi bisa dilakukan oleh istri dengan mengajukan kepada Pengadilan Agama.

Permasalahanya, apakah seorang istri boleh mengajukan gugat cerai dengan alasan alat kelamin suami terlalu besar karena rentan menimbulkan rasa sakit, atau malah terlalu kecil sehingga merasa kebutuhan seksualnya kurang terpenuhi?

Dalam kajian fikih, pembatalan akad nikah disebut dengan  fasakh. Pihak suami maupun pihak istri sama-sama memiliki hak untuk membatalkan pernikahan (khiyar fasakh).

Namun fasakh nikah  harus betul-betul dilandasi dengan alasan yang bisa dijadikan sebagai landasan pertimbangan. Alasan yang dijadikan dasar pertimbangan dibatalkan pernikahan disebut dengan aib nikah.

Salah satu aib nikah – sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj (7/346)- adalah bila alat kelamin suami  sulit untuk masuk ke dalam alat kelamin istrinya. Penyebabnya bisa bermacam-macam.

Dari pihak suami bisa mengajukan fasakh bila alat kelamin istri tersumbat oleh daging, atau terlalu sempit sehingga rentan menimbulkan rasa sakit.

Sebaliknya, istri pun memiliki hak untuk membatalkan pernikahan bila alat kelamin suaminya terlalu besar sehingga bisa menimbulkan rasa sakit. Hal ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat tahun 973 H) dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj (7/346):

Halaman:

Editor: Dicky Aditya


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X