Kabar Baik, Sebuah Kajian Menyebut Varian Baru Virus Covid-19 Tidak Lebih Parah

- 30 Desember 2020, 12:29 WIB
Pengunjung hotel Stamford terkonfirmasi positif virus corona.
Pengunjung hotel Stamford terkonfirmasi positif virus corona. /

GALAMEDIA - Kabar baik, sebuah kajian yang dilakukan oleh Public Health England--lembaga pemerintah Inggris urusan kesehatan masyarakat--menunjukkan bahwa varian baru virus Covid-19 tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan virus varian sebelumnya.

Para ilmuwan menyebut varian baru ini dapat menyebar dengan lebih cepat. Kasus virus varian baru pertama kali dideteksi di Inggris pada pertengahan Desember lalu, sehingga membuat sejumlah negara mengambil kebijakan pembatasan perjalanan ke negara itu.

Saat ini, beberapa negara di Eropa dan belahan dunia lain telah melaporkan munculnya kasus virus varian baru tersebut.

Baca Juga: Polda Jabar Tunggu Kehadiran Enam Saksi Kasus Prostitusi Online Artis TA

Dalam kajian Public Health England, para peneliti membandingkan 1.769 orang yang terinfeksi virus varian baru dengan 1.769 pasien terinfeksi virus "jenis liar", dan kedua kelompok tersebut cocok dengan rasio satu banding satu secara umur, jenis kelamin, area kediaman, serta waktu pengujian.

Dari 42 orang yang dilarikan ke rumah sakit, 16 di antaranya terinfeksi virus varian baru sementara 26 lainnya terinfeksi virus jenis terdahulu, menurut kajian tersebut. Dalam hal jumlah kematian, angkanya 12 berbanding 10 kasus meninggal dunia, berturut-turut untuk pasien virus varian baru berbanding varian lama.

"Hasil awal dari kajian kelompok ini menunjukkan tidak adanya perbedaan statistik yang signifikan dalam hal perawatan di rumah sakit dan kasus kematian selama 28 hari antara kasus varian baru dengan kasus pembanding jenis liar," dikutip dari kajian ini.

Baca Juga: KPK Klaim Selamatkan Potensi Kerugian Keuangan Negara Rp 592,4 Triliun

Tidak ada pula perbedaan signifikan dalam hal kemungkinan infeksi ulang virus varian baru jika dibandingkan dengan varian lainnya.

Dalam kajian tersebut, bagaimanapun, disebutkan bahwa "angka serangan susulan", atau proporsi kontak dari kasus terkonfirmasi yang menjadi kasus baru, muncul lebih tinggi pada pasien terinfeksi virus varian baru.

Sebelumnya pada Selasa (29/12), epidemiolog yang menjadi penasihat pemerintah Inggris, Andrew Hayward, memperingatkan bahwa Inggris akan menuju pada "malapetaka" dalam beberapa pekan mendatang jika tidak mengambil langkah lebih keras untuk menangani kasus varian baru tersebut.

Inggris mencatat 53.135 kasus baru Covid-19 di hari yang sama--angka harian tertinggi sejak pengujian massal dimulai pada pertengahan 2020.

Baca Juga: Awalnya Kedinginan, Delapan Hari Usai Divaksin Perawat UGD Cali Positif Covid-19

Menurut laporan The Times, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah setuju untuk menerapkan pembatasan tingkat paling tinggi, yakni level 4, di lebih banyak lagi area di negaranya. ***

Sumber: Reuters

Editor: Kiki Kurnia


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x