Heboh PPN Jasa Pendidikan, Angka Putus Sekolah Diprediksi Bakal Bertambah, DPR: Tidak Etis!

- 11 Juni 2021, 14:44 WIB
Pemerintah mewacanakan untuk memberlakukan PPN jasa pendidikan. DPR RI menilai langkah itu tidak etis.
Pemerintah mewacanakan untuk memberlakukan PPN jasa pendidikan. DPR RI menilai langkah itu tidak etis. /Twitter.com/@KemenkeuRI

GALAMEDIA - Selain Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Sembako, kini muncul juga wacana PPN untuk jasa pendidikan.

Wacana PPN jasa pendidikan mendapat respons negatif dari berbagai kalangan. Adanya PPN jasa pendidikan dinilai berpotensi menambah angka putus sekolah di Tanah Air.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Himmatul Aliyah ikut angkat suara terkait wacana tersebut.

"Pengenaan pajak pada sektor pendidikan di tengah pandemi akan menambah tinggi angka putus sekolah," ujar dia, Jumat, 11 Juni 2021.

"Pandemi yang masih berlangsung telah menurunkan ketahanan ekonomi masyarakat sehingga banyak siswa dari berbagai daerah di Indonesia mengalami putus sekolah," tambahnya, dikutip dari Antara.

Baca Juga: Keren, Ninja ZX-10R Hadir di Indonesia untuk Manjakan Pengendaranya, Ini Harganya

Himmatul menuturkan, pengenaan pajak pendidikan bisa menambah tinggi angka putus sekolah sehingga menurunkan angka partisipasi sekolah di Indonesia.

Kondisi demikian tentu paradoks dengan visi pemerintah sendiri, yakni mewujudkan SDM unggul untuk Indonesia maju.

Selain itu, pengenaan pajak pada sektor pendidikan akan membuat biaya pendidikan meningkat sehingga akan membebani masyarakat.

"Hal ini tentu akan menciptakan ketidakadilan karena pendidikan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat," ujar dia.

"Ini jelas bertentangan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional," tegasnya.

Disebutkan dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan dan pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan dan tidak diskriminatif.

Baca Juga: PPnBM 'Mati', PPN Sembako 'Hidup', Rocky Gerung: Cara Biadab untuk Pertahankan Peradaban

Rencana pemerintah mengenakan pajak di sektor pendidikan membuat masyarakat yang dijamin haknya justru dibebankan kewajiban.

Sementara pemerintah yang berkewajiban membiayai tapi justru memungut biaya pendidikan dari rakyat.

"Ini tentu tidak etis sekaligus tidak konstitusional. Jadi jika rencana tersebut diberlakukan dan UU disahkan akan rawan digugat di Mahkamah Konstitusi," tambahnya.

Pertimbangan matang
Sementara itu, Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Andy Soebjakto mengatakan upaya menambah objek pajak harus dilakukan dengan pertimbangan yang sangat matang.

Andy mengakui pemerintah membutuhkan tambahan sumber pajak bagi kepentingan penyehatan APBN dan keberlangsungan pembangunan adalah perihal yang dapat dipahami oleh publik dan patut didukung.

Baca Juga: Turki vs Italia, Lorenzo Pellegrini Masuk Daftar Cedera Timnas Gli Azzurri Beberapa Jam Jelang Laga

"Upaya-upaya menambah obyek pajak harus dilakukan dengan pertimbangan yang sangat matang, terutama menyangkut kondisi perekonomian dan keadaan kehidupan rakyat sehari-hari. Filosofi dasarnya adalah 'pajak untuk rakyat' bukan 'rakyat untuk pajak'," kata Andy.

Rencana pengenaan PPN untuk sembako adalah kebijakan yang tidak bijak dan tidak tepat. Bukan saja akan menambah beban hidup rakyat, tetapi juga akan menurunkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat.

Sembako adalah salah satu yang terpokok dari nafas hidup rakyat. Jika dikenakan PPN, nafas rakyat bisa tersengal-sengal.

"Rencana pengenaan PPN untuk sekolah juga tidak bijak dan tidak tepat. Dengan pengenaan PPN, beban sekolah akan digeser menjadi beban orang tua siswa. Artinya jelas akan menambah beban pendidikan bagi rakyat," tutur dia.

Baca Juga: Sebut PPnBM untuk Mobil Mewah 0 persen, Fadli Zon Tegas: PPN Sembako Harus Ditolak!

"Pada sisi yang lain, kebijakan tersebut akan mendorong makin derasnya komersialisasi pendidikan yang pada akhirnya akan meningkatkan ketimpangan akses siswa terhadap sekolah-sekolah yang bermutu," imbuhnya.

PPI mendesak agar rencana pengenaan PPN terhadap sembako dan sekolah tersebut dibatalkan.

"Keselamatan kehidupan rakyat haruslah diutamakan. Setidak-tidaknya tidak diberi tambahan beban di masa-masa sulit seperti sekarang ini," imbuh Andy.***

Editor: Lucky M. Lukman


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x