Makna Hidup dari Pesan 'Logoterapi' di Tengah Pandemi yang Bisa Redamkan Depresi

- 26 November 2020, 15:34 WIB
Simulasi penganan pasien COVID-19 di RSU Margono Soekarjo Purwokerto Banyumas Jawa Tengah /Evi Yanti /Portal Purwokerto

GALAMEDIA - Tak terbayang sebelumnya bahwa wabah Covid-19 akan menimpa warga Indonesia dan dunia. Penyakit yang ditimbulkan dari virus corona ini sudah merenggut nyawa jutaan orang di dunia.

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah melewati sembilan bulan dan belum akan berakhir dalam waktu dekat, kelaihatnnya.

Sepanjang waktu ini, banyak orang - baik orang yang terinfeksi virus corona maupun mereka yang berisiko terinfeksi dan orang-orang yang terdampak dalam berbagai sektor kehidupan - mengalami depresi dan kecemasan.

Baca Juga: Saat Pandemi, Unisba Gelar Konferensi Internasional dengan Pembicara dari Jepang dan Thailand

Dikutip galamedia dari sebuah tulisan Asisten Peneliti dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Anastasai Heni dalam laman The Conversation, seseorang yang dikonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 awalnya mengalami berbagai perasaan negatif seperti tidak percaya, marah, menolak, bahkan mungkin depresi.

Sebuah riset menunjukkan depresi saat pandemi naik tiga kali lipat dibanding sebelum masa pandemi. Riset lainnya juga berkesimpulan kecemasan dan depresi juga dialami oleh para penderita penyakit seperti jantung dan darah tinggi yang menunda ke rumah sakit karena keadaan pandemi Covid-19.

Informasi akurat dan kredibel bagaikan oksigen yang menyehatkan kita.
Walau tidak mudah, kita perlu menemukan makna hidup di tengah keadaan pandemi. Makna hidup ini akan mendorong kita tetap produktif walau ada banyak hambatan dan kesulitan.

Logoterapi, terapi makna hidup
Salah satu teori psikologi yang kerap dipakai untuk terapi menemukan makna hidup di tengah penderitaan adalah logoterapi (penyembuhan). Teori dari Viktor E. Frankl ini menyediakan panduan untuk menjalani hidup secara bermakna meski dalam penderitaan.

Viktor Frankl, psikiater berkebangsaan Austria, menemukan logoterapi tersebut saat ia berada di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz Polandia. Kamp konsentrasi seolah menjadi “laboratorium hidup” karena fasilitas sangat minim, manusia dalam keadaan kelaparan, dan sakit.

Halaman:

Editor: Hj. Eli Siti Wasilah


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X